Dari tanah semusim, tempat di mana
langit selalu menyembunyikan dingin rintik gerimis, biarkan kutulis beberapa
larik kisah yang tak lagi menarik di matamu. Anggap saja sebuah kebetulan kita
pernah bersua. Itu jauh lebih adil ketimbang mengenang hari-hari ketika itu –
dan kita memilih diam, menjaga keheningan ketika sepi mati dalam ketiadaan
kata-kata.
![]() |
To love you die |
Masa lalu tetaplah masa lalu. Hari-hari
yang sepadan dengan ratusan mil setengah perjalanan dari detik di mana harapan memekar
membentuk hari esok. Tak ada alasan untuk memendam keheningan dan sebagian
kisah lawas yang pasti luntur digeser waktu. Tak ada alasan pula untuk merenung
sesal, mengingat sebentuk kesia-siaan yang tampak samar di kedua bola mata.
Tentang hari lalu, biarkan itu lekas berlalu. Hidup selalu berputar lebih cepat
dari yang bisa kita duga. Tak perlu membuat dirimu mesti menunggu masa lalu
kembali. Tak ada bagian yang tersisa untuk sebagian kenangan dari masa itu.
Hiduplah untuk hari depan yang memberi
harapan. Tak perlu sisihkan sebagian memoar tentang hari-hari dimana kenangan
adalah teman untuk menyusun cerita sendu. Itu hanya akan membuatmu hidup dalam
bagian kenangan masa lalu. Lupakan saja cerita tentang gerimis kecil di
Malioboro petang itu, memoar panjang hari-hari ketika di sini, dan semua yang
menghalangimu membangun harapan tentang hari esok. Singkirkanlah sebagian
kenangan di pelataran suci Sam Po Kong kala itu, atau cerita sepanjang Kota Tua
yang masih segar dalam ingatan. Lupakan semua itu. Tak ada tempat bagi masa
lalu di hari depan.
* * * * * * * *
Silahkan berkomentar. No SARA !!!
Bila tertarik untuk melakukan re-post artikel ini, silahkan sertakan sumber link artikel ini. Terima Kasih.
EmoticonEmoticon